English French German Spain Italian Dutch Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara

Posted by FIFAFOREVER 0 comments

Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat manusia yang sama dengan sederajat serta dikaruniai akal dan hati nurani untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam semangat persaudaraan (UU RI No. 39/1999 HAM).
Hidup artinya masih terus ada, bergerak dan bekerja karena dalam diri manusia ada nyawa atau jiwa ciptaan Tuhan (Homo Religius); Secara yuridis konstitusional menurut UUD 1945 pasal 28 A menyebutkan : Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya, jo KUH Perdata Pasal 1 menyebutkan ‘Menikmati hak perdata tidaklah tergantung pada hak kenegaraannya’, ini berarti dalam diri manusia itu melekat terkait didalamnya “hak untuk hidup dan kehidupan serta kemanusiaan yang bersifat universal”. Bahkan seorang anak yang masih dalam kandungan ibunya telah dianggap lahir, bila mana kepentingan si anak itu menghendakinya, dan bila lahir mati dianggap tidak pernah ada di dunia (teori fiksi KUH Perdata pasal 2 dan 3), contohnya menyangkut pembagian warisan, dilarang melakukan aborsi atau menggugurkan janin dalam kandungan yang berarti suatu pembunuhan/pelanggaran HAM; Oleh karena itu saya lebih cenderung mengatakan makna Keluarga Berencana (KB) bukan sebagai pembatasan kelahiran (Birth Control) tetapi pembatasan kehamilan. Kehidupan itu sendiri berarti cara hidup manusia; Sebenarnya apa dan bagaimana arti cara hidup? Pertanyaan ini mengindikasikan bahwa manusia itu disamping sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial karena selalu terikat dengan orang lain, saling bergantung, mendukung dan bekerja sama yang saling menguntungkan (simbiose mutualistis, resiprokal, sosiologis). Sebagai makhluk individu, manusia sendiri terikat dengan kesendiriannya (secara psikologis). Persoalan manusia seperti ini sudah ada sejak manusia ada; Aristoteles menamakan Zoon Politikon artinya manusia adalah makhluk sosial secara kodrati, karena manusia itu selalu hidup bermasyarakat. Dalam hidup dan kehidupan itu manusia tidaklah wajar mementingkan dirinya sendiri tetapi seharusnya mencintai dirinya sendiri. Mementingkan diri sendiri berbeda dengan mencintai diri sendiri, karena mementingkan diri sendiri itu yang bernuansa egois, serakah/tamak.
Apakah masyarakat itu ? Ialah suatu bentuk kehidupan bersama, dimana tiap-tiap anggotanya bersatu karena pengakuannya sama terhadap nilai-nilai hidup tertentu. Umumnya suatu masyarakat menpunyai dua sifat yaitu masyarakat Paguyuban (Gemeinscharft) dan Petembayan (Gesellscharft); Masyarakat paguyuban itu terjadi karena hubungan pribadi antar anggota-anggotanya yang menimbulkan ikatan batin antar mereka, misalnya keluarga, perkumpulan agama, dll. Sedangkan masyarakat petembayan terjadi karena antara anggota-anggotanya terdapat hubungan pamrih, hubungan yang terutama ditujukan untuk memperoleh keuntungan kebendaan, misalnya perkumpulan dagang, PT, CV, koperasi, dll. Kedua sifat-sifat ini dimiliki oleh setiap masyarakat, mana yang lebih signifikan tergantung dari kasusnya dalam melaksanakan hidup dan kehidupan.
Apa yang dimaksudkan dengan bangsa (nation)? Ialah sejumlah orang-orang yang bersama-sama berkemauan untuk bersatu dalam satu susunan kenegaraan, karena didorong oleh bermacam-macam sebab yang sama, persamaan senasib, seperjuangan, persamaan sejarah, dll. Sebenarnya pengertian bangsa ini banyak ahli-ahli yang telah mengemukakan, misalnya Otto Bauer berpendapat bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persamaan nasib; Ernest Renan berpendapat adanya keinginan untuk hidup bersama atau bersatu, Sedangkan Karel Househoffer mengatakan pembentukan suatu bangsa bukan hanya faktor persamaan nasib atau faktor keinginan bersatu, tetapi yang paling penting adalah adanya batas-batas wilayah geopolitik yang jelas. Jadi untuk menjadi satu bangsa yang tangguh perlu adanya unsur-unsur perasaan/kemauan bersatu, unsur persamaan nasib dan perlunya ada wilayah tanah air yang menyatu dengan rakyatnya (perhatikan makna Sumpah Pemuda 1928).
Apakan negara itu ? Ialah suatu organisasi bangsa atau organisasi sosial politik yang bertujuan dengan kekuasaanya untuk mengatur dan mengurus hidup dan kehidupan bangsanya sebagaimana disebutkan didalam konstitusinya (baca UUD 1945); Negara seharusnya memiliki memiliki 3 syarat minimum (mutlak), yaitu:
a. Adanya rakyat yang merupakan satu bangsa
b. Adanya daerah teritorial yang tertentu
c. Adanya penyelenggara kekuasaan yang berdaulat kedalam maupun keluar; Kedalam artinya harus ditaati oleh rakyatnya, dan keluar artinya harus mampu mempertahankan NKRI agar tetap eksis bersama-sama dengan bangsa-bangsa beradab lainnya didunia tanpa diskriminasi.
Sebenarnya organisasi kekuasaan adalah negara itu sendiri. Menurut ahli ilmu politik Gaetano Mosca bahwa sifat dan bentuk suatu negara ditentukan oleh perhubungan politik antara mereka yang memerintah dengan mereka yang diperintah. Dalam hubungan dengan Indonesia maka bentuk dan sifat negara adalah merupakan negara kesatuan yang demokratis dan berdasarkan atas hukum. (UUD 1945 Pasal 1). Sebagai negara yang demokratis dapat kita lihat bahwa infrastruktur politik di Indonesia terdiri dari multi partai, bukan partai tunggal atau single mayority ataupun rulling class sebagaimana pernah dipraktekkan dalam sejarah ketatanegaraan kita pada masa lalu. Di Indonesia saat ini kedaulatan dipegang oleh rakyat dan dilaksanakan menurut UUD 1945 artinya mulai dari presiden sampai kepada lurah, hanyalah sekedar pemegang kekuasaan/kedaulatan negara dan sama sekali bukanlah pemilik kekuasaan/kedaulatan itu sendiri dalam rangka melaksanakan tujuan etis nasional dari NKRI yaitu melindungi/mempersatukan, menyejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Disamping itu ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Karena tiap-tiap bangsa didunia ini mempunyai harkat dan martabatnya sendiri, maka perlu ditegaskan bahwa kita “Cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan”(suatu harga mati bagi NKRI).
Kehidupan negara harus dibarengi dengan penegakkan supremasi hukum agar hidup dan kehidupan masyarakat bangsa dan negara selalu berada dalam tata tertib yang disesuaikan dengan perundang-undangan yang berlaku berdasarkan tata urutan perundang-undangan RI (TAP MPR RI No. III/MPR/2000 tentang sumber hukum dan tata urutan dan perundang-undangan). Disamping hal-hal tersebut diatas, perlu mempertimbangkan secara akademis tentang arti kebenaran secara khierarkis yaitu : Benar kata aku, benar kata kami, benar kata kita, dan benar kata hukum. Dalam konteks kehidupan bernegara maka kata hukumlah yang paling tinggi; Tetapi dalam hidup dan kehidupan ini, kadang-kadang justisia harus dikorbankan demi utilitas, dengan kata lain keadilan dikorbankan demi untuk kepentingan umum.
Sangat penting diperhatikan pula bahwa kondisi objektif bangsa Indonesia adalah masyarakat yang berwawasan Pluralistik /Bhinneka Tunggal Ika, yaitu hidup dan berkehidupan antar suku, agama, ras/etnis dan antar golongan(SARA); Oleh karena itu perlunya menjaga/memelihara semangat toleransi, terutama menyangkut Religious Literacy artinya kepedulian/kemelekan terhadap agama atau keagamaan orang lain, sambil menjaga tentang moral, etika dan akhlak masing-masing agama dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Karena NKRI ini adalah satu negara kesatuan dengan sistem desentralisasi yang pilar utamanya adalah kemandirian lokal maka perlu memperhatikan adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan, atau konvensi (perjanjian) sesuai dengan keadaan pada tingkat provinsi, kabupaten/kota sampai ke desa-desa yang mempunyai karakteristik tersendiri dalam ikatan NKRI. Disamping itu perlunya politik pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan kualitas SDM masyarakat lokal yang ada dari waktu ke waktu, sehingga pada gilirannya masyarakat lokal tidak lagi hanya menjadi objek tetapi berubah menjadi subjek pembangunan.

Kehidupan Beragama

Posted by FIFAFOREVER 0 comments



Kehidupan beragama menpunyai banyak sudut2 positipnya. Hal ini adalah maksud dan tujuan dari ajaran
agama.
Akan tetapi akibat2 negatip yang bertitik tolak pada soal agama banyak juga terjadi dan menuntut
pengorbanan disana-sini di dunia.
Diseluruh dunia pandangan/ sikap terhadap agama ber-beda2, a.l. :
  1. Bebas memilih agama sebab agama dianggap urusan pribadi masing2 Tidak ada persoalan yang disebabkan oleh perbedaan agama atau sekte.
  2. Bebas memilih agama tetapi pengaturan secara menyeluruh untuk menjamin kebebasan beragama diatur oleh pemerintah sebagai pelindung.
  3. Bebas memilih agama dijamin oleh pemerintah yang sekalian mengusahakan pendekatan antara umat beragama atas dasar saling menghargai dan saling membantu dalam suasana hidup damai berdampingan.
  4. Bebas memilih agama diantara agama2 yang disetujui pemerintah.
  5. Bebas memilih agama dengan resiko dapat diancam oleh massa setempat jika memilih agama2 tertentu.
  6. Tidak bebas memilih agama lain dari agama yang dianut oleh orang tua sebab kebudayaan setempat.
  7. Tidak bebas memilih agama sebab peraturan pemerintah.
  8. Tidak diizinkan memilih/ menganut agama sebab ketentuan pemerintah.

Pasal2 diatas menpunyai pengaruh ber-beda2 dalam kehidupan/ sikap antara umat yang berbeda agama/
berlainan sekte.
Pengaruh2 itu berlainan pula gejala dan bobotnya, misalnya :
  1. Ada dalam satu keluarga Bapak, Ibu serta anak2 menganut agama ber-beda2, tetapi tetap rukun dalam kehidupan bersama dan dalam melakukan ajaran agama masing2.
  2. Ada pula sampai ancam2-an antara umat beragama sehingga berbentuk peperangan menuju perpecahan dalam pemerintah atau perbedaan agama digunakan sebagai cambuk peperangan untuk merdeka. (contoh di IRLANDIA)
Diantara contoh a dan b diatas masih terdapat banyak variasi gejala dan bobot, dari yang lemah sampai
yang mengerikan

Nilai Kehidupan

Posted by FIFAFOREVER 0 comments

Gantung Diri ( Kendat )
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.


Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."
Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."
Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".
Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".
Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Nilai Kehidupan
Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.
Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.

Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!
http://www.andriewongso.com

Nilai Kehidupan Dalam Kegagalan

Apakah orang cacat dapat mengubah dunia ini menjadi lebih indah? Apakah hanya orang yang sempurna yang dapat mengubah dunia ini lebih baik? Secara tegas dapat dijawab bahwa manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa mempunyai hak yang sama untuk dapat mengubah dunia ini lebih indah dan lebih baik, tanpa memandang apakah ia orang yang cacat atau sempurna fisiknya, bermata sipit atau tidak, berkulit berwarna atau putih dsbnya. Sejarah dunia telah membuktikan bahwa orang cacat mempunyai kesempatan yang sama dengan orang yang sempurna. Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap manusia, diberikannya tempat khusus untuk bermimpi dalam otak manusia.
Tiga orang cacat berat yang pernah hidup di dunia ini dan mempunyai jasa besar bagi umat manusia: Helen Keller lahir pada tanggal 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, AS dan meninggal dunia tahun 1968 dalam usia 87 tahun. Pada usianya masih 19 bulan ia terserang penyakit yang menyebabkan buta dan tuli. Dalam perjuangan hidup selanjutnya, ia telah menjadi seorang penulis, peneliti, aktivis, dan dosen. Ia bekerja membantu orang-orang buta dan tuli. Menguasai bahasa Perancis, Jerman, Yunani, dan Latin lewat Braille. Bukunya yang terkenal The World I Live In dan The Story of My Life (diketik dengan huruf biasa dan Braille) yang menjadi literatur klasik di Amerika Serikat dan diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Ia juga mendirikan American Foundation for the Blind dan American Foundation for the Overseas Blind. Atas perjuangannya itu Helen dianugerahi Honorary University Degrees Women’s Hall of Fahme, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award dan kisah hidupnya telah meraih dua piala Oscar.
Louis Braille dilahirkan tanggal 8 Januari tahun 1809 di Coupvray Perancis dan meninggal 6 Januari 1852. Sewaktu usianya masih 3 tahun ia senang bermain-main di toko perlengkapan kuda ayahnya. Pada saat itulah matanya terkena salah satu peralatan kuda ayahnya yang menyebakan kedua matanya menjadi buta. Meskipun matanya buta dalam perkembangan kehidupan selanjutnya, ia telah mengembangkan tulisan untuk membantu tunanetra dapat membaca dan menulis. Pada menjelang akhir abad ke-19 ciptaannya tersebut diterima secara universial dengan nama tulisan “Braille”. Berkat jasanya yang luar biasa tersebut, dunia internasional memperingati hari kelahirannya tanggal 4 Januari sebagai: ”Hari Braille”.
Ludwig van Beethoven, seorang Jenius dalam bidang musik, dibaptis tanggal 17 Desember 1770 di Bonn, meninggal dunia tanggal 26 Maret 1827 di Wina. Ia pernah diremehkan oleh gurunya karena tidak bisa melakukan perkalian dan pembagian. Kini Ia dikenal sebagai seorang komponis musik klasik dari Jerman. Karya yang terkenal adalah simfoni kelima dan kesembilan dan juga lagu piano Fur Elise. Ia di pandang sebagai salah satu komponis yang terbesar dan merupakan tokoh penting dalam masa peralihan antara zaman klasik dan zaman romantik. Semasa muda, Ia adalah pianis yang berbakat, popular di antara orang-orang penting dan kaya di Wina, Austria tempatnya tinggal.
Pada usia 20 tahun, panca indra pendengarnya mendapat gangguan dan ia menjadi tuli yang disebabkan otolerosis. Ia tertekan sampai-sampai ia mau bunuh diri. Ia merasa sedih, karena penyakit yang dialaminya tersebut, yang dapat dilihat di suratnya yang ditemukan di sebuah rumahnya di Heiligenstadt dekat Wina. Alasan yang lain lagi sehingga ia terkena depresi berat adalah karena tak berhasil mendapatkan teman hidup. Banyak wanita bangsawan yang sering dicintainya, namun umumnya cintanya bertepuk sebelah tangan dan Beethoven tak pernah beristri.
Pada usia 40 tahun ia menjadi seratus persen peka, sehingga ia tak pernah tampil lagi di muka umum dan semakin menjahui masyarakat. Hasil karyanya semakin sedikit dan semakin sulit di mengerti. Sejak itu dia mencipta terutama buat dirinya sendiri dan beberapa pendengar yang punya ideal masa depan. Dia pernah bilang kepada seorang kritikus musik, ”Ciptaanku ini bukanlah untukmu tetapi untuk masa sesudahmu.”
Pada tahun 1826, Beethoven menderita demam tingi yang ternyata disebabkan oleh penyakit ginjal. Penyakitnya tak tertolong dan meninggal dunia pada tanggal 26 maret 1827 di Wina pada usia 57 tahun.
Karya Beethoven yang banyak itu adalah: 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vocal, musik teater dan banyak lagi.
Dari kisah hidup 3 orang cacat berat tersebut (Helen, Braille, dan Beethoven) dapatlah kita pelajari bersama bahwa ada nilai-nilai kehidupan yang harus kita ingat bersama dalam suatu kegagalan hidup ini. Nilai-nilai kehidupan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Kejadian yang secara tiba-tiba menimpa kita, merupakan suatu rencana Tuhan. Yakinlah rencana-Nya itu indah dan Dia pasti turut bekerja dalam kehidupan kita yang akhirnya rencana-Nya pasti akan mendatangkan kebaikan.
2. Merenunglah sesaat dan ambil suatu hikmat untuk dipelajari dari kejadian tersebut. Jangan mencari–cari alasan atau mengkambinghitamkan orang lain. Belajarlah dari peristiwa tersebut.
3. Majulah selangkah demi selangkah. Pandanganlah ke depan dan jangan menoreh ke belakang. Lupakan kejadian yang menimpa tersebut.
4. Ingatlah bahwa kita dihadapan Tuhan merupakan mahluk yang sangat mulia. Tidak ada dalam kamus Tuhan, orang yang cacat tidak mempunyai hak untuk dapat mengubah dunia ini menjadi lebih indah.
Ingatlah nilai-nilai tersebut dan jangan sampai karena cacat tubuh, membuat seseorang menjadi tidak berdaya lagi dalam menjalani hidup ini, tidak lagi mempunyai mimpi yang indah dan selalulah tetap optimis dalam meraih mimpi tersebut, seperti pernah yang dikatakan oleh Helen Keller: ”Aku mengucap syukur kepada Tuhan atas cacatku, sebab melaluinya aku telah menemukan diriku sendiri, karyaku, dan Tuhanku.”
*) Dudy Saragih, alumni workshop “Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik batch XII” ini dapat dihubungi di dudysaragih@yahoo.com atau www.dudysaragih.blogspot.com

Kehidupan Adalah Anugerah

Posted by FIFAFOREVER 0 comments

Hari ini, sebelum lisan berkata buruk, bayangkan mereka yang tidak mampu bicara.

Sebelum menghujat citarasa makanan, pikirkan mereka yang kesulitan mendapatkannya.

Sebelum mencela pasangan hidupmu, bayangkan mereka yang masih menghiba untuk dikaruniai jodoh.


Sebelum bersungut pada kehidupan, pikirkan mereka yang telah meninggal.


Sebelum memarahi anak-anakmu, bayangkan mereka yang sulit mendapatkan keturunan.


Sebelum menggerutu malasnya membersihkan rumah, bayangkan mereka yang hidup sehari-hari di lorong jalan.


Sebelum mengomel tentang jauhnya perjalanan saat berkendara, bayangkan mereka yang berjalan kaki.

Sebelum mengoceh tentang pekerjaanmu, empatilah pada mereka yang menganggur dan berharap bisa memiliki posisi sepertimu.

Sebelum menyalahkan orang lain, ingat-ingatlah bahwa tak satupun manusia yang hidup tanpa cela.


Dan, janganlah menyerah karena masalah, tapi tersenyum dan berterimakasihlah kepada Tuhan bahwasannya kita masih diizinkan hidup.

Makna Kehidupan

Posted by FIFAFOREVER 0 comments

(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual -  Wisnu Prakasa")

Di zaman sekarang ini, manusia setiap hari tanpa henti untuk selalu memenuhi keinginannya belaka, walau dirinya kadang menyadari bahwa keinginan yang timbul tidak akan pernah dapat terpuaskan.
Mereka tidak lagi memperdulikan bahwa setelah kematian:
        Apa yang dibawa ?
                    Apa yang dilakukan ?
                            Kemana akan pergi?
                                    Dan bagaimana ?

Jika anda merasa telah memahaminya, berhati-hatilah. Karena perasaan paham anda,
        sebenarnya adalah kemelekatan akan ketidak-tahuan. Jika anda merasa tidak memahaminya,
        sebaiknya anda lebih berhati-hati. Karena perasaan tidak memahami ini,
        sebenarnya adalah kebodohan akan ketidak-tahuan. Lalu bagaimana kita seharusnya,
    agar terbebaskan dari kemelekatan dan kebodohan ? Dapatkan anda menunjukan saya ?
Jika anda tidak tahu akan jawaban pertanyaan saya. Jagalah KETIDAK-TAHUAN ini,
        maka KETIDAK-TAHUAN ini akan jernih dan jelas.
Jika anda memahami kejernihan dan kejelasan akan KETIDAK-TAHUAN ini,
        maka Kesadaran anda tetap jernih dan jelas. Dengan Kesadaran tetap jernih dan jelas, maka:
        “Apa yang dibawa,
                    apa yang dilakukan,
                                kemana akan pergi,
                                         dan bagaimana ? “ 
 akan jernih pula. Maka anda akan memahami kebenaran alamiah kehidupan:
    Bagaimana menjalani kehidupan dunia & spiritual,
dengan menjalani kehidupan yang sebenarnya sebagai manusia. 
Tapi sangat disayangkan, tidak banyak manusia yang menjalani kehidupannya sebagai manusia yang sebenarnya.

Share |
Photobucket

Kehidupan

adsense

RecentPosts

Bloglists

  • Leader dan rekan - Ketika atasan sudah menunjuk Anda untuk menjadi seorang leader suatu anak cabang perusahaan, pastikan untuk membuat tim yang solid. Kumpulkan semua rekan, ...
    15 tahun yang lalu
mp3